SENIN, 11 APRIL 2011 | 46033 Hits
Ponpes AS Salman Mampu Berprestasi di 'Umur Belia'
SIDRAP -- Pondok Pesantren DDI As-Salman Allakuang, Kabupaten Sidrap kini terus memperlihatkan eksistensi di dunia pendidikan santri.
Mendekati milad yang ke-5 tahun, 10 Mei 2011 mendatang, Wakil Direktur Pondok Pesantren DDI As-Salman, DR H Kaswad Sartono MAg kepada PARE POS, memberikan apresiasi sekaligus bersyukur kepada Allah SWT atas sejumlah perstasi yang diraih para santri dalam beberapa event terakhir. Seperti halnya juara umum di event MQK tingkat Kabupaten Sidrap.
Menurutnya, prestasi yang luar biasa itu didukung tiga alasan pokok, diantaranya prestasi santri kali ini tercipta di bidang tafaqquh fiddin yakni pemahaman keilmuan agama Islam yang berbasis kitab-kitab Islam klasik, yang biasa disebut kitab kuning, sementara itu perlu diketahui bahwa tafaqquh fiddin adalah ruh sekaligus cirikhas eksistensi sebuah pondok pesantren, prestasi ini juga dinilai sebagai indikator upaya pencapaian visi pondok pesantren As-Salman secara maksimal yakni mewujudkan pendidikan yang terbaik dan termutu, ya kita mengawali dalam skala regional dan bukti bahwa kendati masih berusia "balita", namun mampu mempersembahkan prestasi di bidang pengembangan aspek intelektual, apalagi mendekati peringatan Milad ke-5 pondok pesantren Mungkin inilah sebuah kado ulang tahun.
Kaswad Sartono mengungkapkan, memasuki tahun kelima ini, dinamika pondok pesantren terus bergerak ke arah penyempurnaan mutu baik aspek proses pendidikan, sarana maupun pengabdian masyarakat. Dalam aspek pendidikan diberikan secara utuh, menyeluruh dan holistik antara pengembangan potensi aqliyah (intelektual sebagai modal pengembangan penguasaan ilmu yang bermanfaat dan bermartabat), akhlaqiyah (akhlak muamalah sebagai modal interaksi di tengah-tengah masyarakat), amaliyah (keterampilan hidup sebagai modal menghadapi tantangan zaman khususnya pemenuhan kebutuhan hidup secara ekonomis).
Dari berbagai pendekatan ini diharapkan para santri memiliki modal yang cukup untuk menghadapi kompleksitas tantangan kehidupan manusia di era globalisasi ini.
Namun demikian, wakil sekjen PB DDI itu menyadari bahwa untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan As-Salman secara kelembagaan itu tidaklah seperti membalik kedua telapak tangan dan kun fayakun. Berbagai kekuatan dan peluang memang dimiliki dan terbuka, namun tantangan dan kendala juga terasa dihadapi oleh pondok pesantren.
Oleh karena itu, manajemen yang diterapkan oleh pondok pesantren adalah bagaimana menggabungkan berbagai terori manajemen dengan mengedepankan dua implementatif yaitu manajemen strategik dan total quality management dengan tiga prinsip yaitu memfokuskan kepuasan pelanggan (santri), perbaikan proses pendidikan, dan peningkatan jaringan kerja (net working).
Implementasi berbagai teori itu sangat penting, lanjut alumni program doktor UIN Alauddin yang juga kepala seksi pelayanan masyarakat pondok pesantren Kanwil Kementerian Agama Sulsel itu karena mendidik santri tidak sama mendidik siswa di sekolah atau madrasah.
Pendidikan pondok pesantren berlangsung 24 jam artinya seluruh perilaku santri wajib diarahkan ke arah pengembangan, perbaikan dan penyempurnaan pribadi para santri. Dalam 24 jam itu juga mengandung arti bahwa seluruh kebutuhan hidup santri juga wajib difasilitasi oleh pondok pesantren. Pondok pesantren adalah rumah tinggal para santri. Pimpinan, pembina dan ustadz pondok pesantren adalah orang tua (idiologis) santri yang berkewajiban mengantarkan masa depan kehidupan santri yang lebih baik, minimal mampu menjadi “cahaya” di tengah-tengah umat dimana mereka berada.
Sebagai penutup pembicaraan, Kaswad Sartono mengucapkan kepada segenap Pembina dan ustadz serta masyarakat luas atas dukungan terhadap seluruh program pondok pesantren DDI As-Salman. (din)
Komentar Anda Untuk Berita/Artikel " Ponpes AS Salman Mampu Berprestasi di 'Umur Belia' "
|