SABTU, 04 SEPTEMBER 2010 | 5642 Hits

Alquran dan Fungsinya
Penting para muslim, muslimah memahami walau dengan garis besarnya tentang proses penulisan Al Qur’an, agar dapat dijadikan penguat keyakinan, aqidah Islami dalam hidup dan kehidupan, berdasarkan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw. dan ketentuan pemimpin yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadit
sebagaimana firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An Nisaa (4): 59). Proses penulisan Al Qur’an tersebut secara garis besar tersusun sebagai berikut: 1. Tahap Pertama: Zaman Nabi Muhammad Saw. pada jenjang ini penyandaran pada hafalan lebih banyak daripada penyandaran pada tulisan karena hafalan para Sahabat R.A. sangat kuat dan cepat karena didorong keyakinan mereka terhadap Rasulullah Saw. dan yang lebih penting karena mendapat hidayah dari Allah Swt. di samping sedikitnya orang yang bisa baca tulis dan sarananya pun/alat tulis menulis sangat terbatas. 2. Tahap Kedua: Pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. tahun 12 H. (dua belas Hijriyah) menjadi sangat/harus menyusun menjadi 1 (satu) kitab tentang Al Qur’an itu, yang dimulai dari surah Al Faatihah (1) yang terdiri dari 7 ayat tergolong surah Makiyah dan diakhiri dengan surah An Naas (114) yang terdiri dari 6 ayat tergolong surah Makiyah, penyebabnya yang terpokok adalah: pada perang Yamamah banyak dari kalangan Al-Qurra’ (penghapal Qur’an) yang terbunuh, di antaranya Salim bekas budak Abu Hudzaifah, salah seorang yang Rasulullah Saw. memerintahkan untuk mengambil pelajaran, menghapal Al-Qur’an darinya. Maka Abu Bakar R.A. memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak hilang, hal itu merupakan desakan dari Umar Ibn Khaththab, karena ia telah menyaksikan banyak penghapal Qur’an yang gugur dalam peperangan (termasuk pada perang Yamamah). Awalnya Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Swt. membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit R.A. di samping Abu Bakar berdiri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemrerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw. maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah! Lalu Zaid berkata : akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Hasil penulisan Zaid Ibn Tsabit R.A. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar R.A. 3. Tahap Ketiga: Utsman lalu mengutus seseorang kepada Hafsah R. A. kirimkan kepada kami mushaf (Qur’an) yang engkau pegang agar kami gantikan mushaf-mushaf yang ada dengannya kemudian akan kami kembalikan kepadamu! Hafshah lalu mengirimkan mushaf (Qur’an) tersebut. Kemudian Khalifah Utsman memerintahkan Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman Ibnul Harits Ibn Hisyam R.A. untuk menuliskannya kembali dan memperbanyaknya. Zaid Ibn Tsabit berasal dari kaum Anshar sementara tiga orang yang lain berasal dari Quraisy. Utsman mengatakan kepada ketiganya : Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek Quraisy tersebut!. (bahan ini adalah materi kuliah yang penulis peroleh dari mata kuliah Pengantar Tafsir Ilmu Tafsit yang disampaikan oleh Bapak Drs.H. Ruslan Ajun, pada jurusan PAI Faktarbiyah IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 1976). Telah menjadi prinsip dasar bagi muslimin dan muslimah bahwa yang memberikan jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat secara mutlak adalah cara hidup dengan akal sehat yang senantiasa didasarkan pada petunjuk dari Al-Qur'an dan Al-Hadits, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. "Aku tinggalkan pada kalian selagi kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya." (H.R. Al Hakim). Qur'an biasa diartikan bacaan atau yang dibaca berarti Al-Qur'an itu adalah suatu bahan, kitab yang tersusun rapi sejak dari jaman Nabi Muhammad Saw. walaupun mengalami tiga proses sebagaimana tersebut di atas, yang harus dibaca, tentunya dengan bacaan tersebut maka yang membacanya dan yang mendengarkannya (memperhatikan) bacaan itu atas dasar iman mendapat pelajaran dan keridhaan dari Allah Swt. sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (Q.S. Al Qiyamah (75): 17 – 18). Atas bacaan dan perhatian dengan iman pada Al-Qur'an tersebut, maka mukmin-mukminah itu mendapat rahmat, keberkatan baik di dunia terlebih kelak di akhirat dari Allah Swt. sebagaimana firman-Nya: Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al ‘Araf (7): 204). Pengertian/maksudnya: malaikat Jibril mengumpulkan dan membacakannya (Al-Qur'an) kepada nabi Muhammad Saw. dan Nabi Saw. memperhatikan dengan seksama kemudian membacanya untuk ditirukan, dihapal umat atau para pengikut Muhammad Saw. sebagai dasar utama dan pertama dalam menjalankan syariat Islam, adapun dasar yang kedua adalah Sunnah Rasul-Nya, maka adalah kewajiban umat Islam untuk mencapai kemuliaan di dunia dan terlebih kelak di akhirat, maka mereka harus: 1. Meyakini Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya, sebagai mukjizat dari Allah Swt. kepada Muhammad Saw. untuk dijadikan pedoman, petunjuk serta keterangan dalam menjalankan kerasulannya. 2. Memiliki Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi seorang muslim membiasakan diri meminjam Al Qur’an yang ada pada orang lain. 3. Membaca Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi kesan dalam masyarakat bahwa Al Qur’an hanya dibaca pada saat adanya orang meninggal dunia atau pada malam jumat dan lain sebaginya yang sangat tidak menguntungkan kehidupan muslim secara meluas. 4. Memahami isi, makna, kandungan Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi kebiasaan yaitu sambil membaca Al Qur’an sambil melakukan sesuatu yang sangat bertentangan denga apa yang dibaca dari Al Qur’an tersebut. 5. Mengamalkan isi makna, kandungan Al-Qur'an yang telah dipahami dengan sebaik-baiknya dalam segala aspek hidup dan kehidupannya sebagai muslim, muslimah, sehingga tidak terjadi kebiasaan sambil membaca Al Qur’an sambil pula mengamalkan kemusyrikan, yang sungguh bertentangan dengan ajaran Al Qur’an tersebut. Al-Qur'an diturunkan Allah Swt. kepada Muhammad Saw. 8 Agustus 610 M. (17 Ramadhan ketika Muhammad Saw. masuk usia ke 41 Tahunnya), ayat yang pertama diturunkan adalah Q.S. Al ‘Alaq (96): 1 – 5), sebagaimana firman-Nya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al ‘Alaq (96): 1 – 5). Kandungan: 1. Dapat membaca nama Allah dan kekuasaan-Nya. 2. Dapat membaca gejala alam semesta dalam arti yang seluas-luasnya, sehingga memiliki kemampuan mengenal dan memanfaatkan potensi diri dan alam lingkungan tersebut, insya Allah panca indera dapat digunakan semua untuk membaca apa yang ada pada diri dan lingkungan kita. 3. Dapat belajar dan menambah terus ilmu pengetahuan sebagai alat yang pokok dalam hidup dan kehidupan umat manusia khususnya dan alam pada umumnya. Baca dan pahami isi Al-Qur'an dengan baik dan benar dan dirikan shalat, tinggalkan keji dan mungkar, lakukan shalat dengan khusyu, pelihara secara terus-menerus dengan penuh kehati-hatian seluruh rangkaiannya, jangan dirusak dengan penyakit jiwa, batin, yaitu: iri hati, dengki, sombong, takabur, munafiq dan lain sebagainya. "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al Ankabut (29) : 45). Dan ayat Al-Qur'an yang terakhir diturunkan pada 9 dzulhijjah Tahun ke 10 Hijriyah, Tahun ke 63 dari lahirnya Muhammad Saw. bertepatan dengan bulan Maret Tahun 632 M. ayat terakhir diturunkan adalah: … Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Maaidah (5): 3). Kandungan: 1. Ketegasan Allah Swt. tentang orang kafir telah berputus asa mengadakan perlawanan terhadap penganut Islam. 2. Ketegasan Allah Swt. tentang telah sempurnanya agama Islam sebagai anutan jalan hidup Muhammad Saw. dan pengikutnya bahkan manusia pada umumnya, tidak perlu mencari agama yang lain dari Islam. 3. Ketegasan Allah Swt. tentang keridhaan-Nya atas para penganut Islam. 4. Ketegasan Allah Swt. tentang adanya ampunan-Nya atas hambanya yang telah melakukan sesuatu dosa karena darurat, atau terpaksa lantas ia bertaubat. Semoga.

Komentar Anda Untuk Berita/Artikel " Alquran dan Fungsinya "