KAMIS, 11 MARET 2010 | 3796 Hits
Krisis Air, Petani Tetap Menanam
SIDRAP — Krisis air atas dampak rencana penutupan saluran irigasi induk Saddang, Rappang dan serangan hama penggerek, bisa jadi masih menjadi ancaman serius bagi kalangan petani di Sidrap.
Namun tidak berarti, petani di daerah ini memilih ‘istirahat’ untuk mengolah sawah mereka.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Sidrap, Amiruddin Syam saat ditemui di kantornya, Rabu kemarin memastikan proses pertanian di 11 kecamatan di Sidrap ini dalam musim tanam mendatang masih tetap berlangsung, kendati prosentasenya tidak sebesar beberapa musim tanam yang lalu.
Pemkab Sidrap, dalam hal ini instansi terkait, kata Amiruddin tetap membolehkan petani mengolah sawahnya, namun tetap dianjurkan untuk memilih varietas genja alias varietas berumur pendek agar tidak membutuhkan banyak air hingga proses panen berlangsung. Termasuk melakukan proses tanam lebih awal sebelum penutupan irigasi.
Di Sidrap, kata mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kendari ini, potensi lahan pertanian mencapai 4.439 hektare, terdiri dari sawah irigasi teknis sebanyak 28.985 hektar, sawah irigasi tanah teknis 6.151, sawah irigasi desa sebanyak 3.755 hektar dan tadah sawah hujan seluas 5.528.
Potensi lahan ini memerlukan penanganan secara serius dalam membantu petani dalam mengoptimalkan produksi pertaniannya. Salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam membantu petani di Sidrap, kata dia lagi yakni dengan merealisasikan program nasional (prona) peningkatan produksi pertanian.
Salah satu yang mendasar dibalik program itu di 2010 itu yakni melalui bantuan bahan pertanian yang jika diuangkan nilainya mencapai Rp14 miliar. Bantuan ini berasal dari pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Pertanian (Deptan) RI.
“Jadi nilai bantuannya mencapai Rp14 miliar, namun bukan dalam bentuk uang, melainkan barang,” ujar Amiruddin.
Lantas bagaimana dengan petani yang berada pada saluran tingkat III meliputi kecamatan Watangpulu, Panca Lautang, Tellu Limpoe, Baranti, dan Sidenreng yang jelas-jelas akan menghadapi krisis air? Menurut Amiruddin, itu tidak masalah sepanjang petani di wilayah itu tetap memperhatikan varietas yang akan digunakan.
Amiruddin bahkan menggaransi, kendati petani pada saluran tingkat III bakal mengalam krisis air yang berkepanjangan, paling tidak antara Mei hingga Agustus mendatang. Namun, petani di sana tetap akan melangsungkan kegiatan pertanaman.
“Buktinya, sekarang ini sudah ada petani yang memilih sudah menanam guna menghindari penutupan irigasi itu,” katanya. (edy/c)
Komentar Anda Untuk Berita/Artikel " Krisis Air, Petani Tetap Menanam "
|