SENIN, 08 FEBRUARI 2010 | 3523 Hits
Catatan Tur Jurnalistik Pendidikan, Malaysia (1) Disambut “Pejabat” dan Pesona Genting yang Wah
Ya, sampai saat ini Indonesia masih harus belajar banyak dari negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Setidaknya itu terekam dari kegiatan tur jurnalistik pendidikan PARE POS bersama pemenang pertama kepala sekolah inovatif se-Ajatappareng, Soppeng, Wajo 2009, di dua negara tersebut, pekan lalu.
LaporN: RUSLI AMRULLAH, Kuala Lumpur
Senin 1 Februari, sekitar pukul 21.00 malam, rombongan tiba di Bandara Antara
Bangsa, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menempuh perjalanan udara sekitar tiga jam dari
Makassar. Rombongan dijemput dua bas pesiar (bus wisata) yang sudah dipesan untuk menuju Hotel Imperial, kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, tempat rombongan menginap.
Sayangnya, begitu keluar dari gerbang bandara, rombongan disetop petugas Dinas Perhubungan atau LLAJR setempat, yang disebut Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ). “Hebat benar rombongan kasek dan wartawan ini, kita dijemput pejabat (JPJ maksudnya, red),” celutuk seorang anggota rombongan di atas bus.
Ternyata, petugas JPJ ini menerima laporan dari dalam bandara, bahwa salah satu bus yang mengangkut rombongan “melanggar” karena tidak mematuhi ketentuan antrean mengangkut penumpang. Ya, aturan di Malaysia soal pengangkutan memang terbilang ketat.
Angkutan umum harus antre untuk mengangkut penumpang. Berbeda jika itu sudah dipesan khusus atau diboking.Setelah dijelaskan bahwa dua bus tersebut memang sudah dipesan, akhirnya petugas JPJ memperbolehkan rombongan melanjutkan perjalanan. Jarak dari bandara
ke kawasan Bukit Bintang sekitar 75 km atau sekitar satu jam perjalanan darat. Kawasan Bukit Bintang adalah salah satu kawasan di Malaysia yang tidak pernah tidur atau selama 24 jam terus menggeliat.
Di kawasan ini terdapat perpaduan multietnis. Yang mendominasi adalah etnis Tionghoa, Arab, dan Eropa, di samping warga Melayu sebagai kaum mayoritas.
Menurut Hisam, sopir bus yang mengantar rombongan, penduduk Malaysia didominasi oleh bangsa Melayu sekitar 70 persen, sisanya Tionghoa, India, Arab, dan
bangsa lainnya. Dari Hisam pula diketahui, bahwa hanya ada 15 tun (gelar penghargaan tertinggi yang diberikan kepada orang berjasa kepada negara) di Malaysia. Tun ini hanya bisa digantikan apabila pemegang gelar meninggal dunia. “Tun itu tidak bisa diusir dari Malaysia,” ujar Hisam.
Agenda pertama rombongan, Selasa 2 Februari keesokan harinya, adalah mengunjungi Kantor
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk bertemu Atase Pendidikan M Imran Hanafi. KBRI terletak di 233 Jl Tun Razak 50400 Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur.
Rombongan diterima Imran Hanafi sekitar pukul 10.30 waktu setempat atau sama dengan waktu Indonesia tengah (Wita) di Tanah Air. Imran Hanafi di hadapan tiga kasek inovatif, Drs Fatahuddin MH (pemenang SLTA), Tri Astoto SPd MPd (SLTP), dan Bakri Anggara SPd (SD), serta anggota rombongan lainnya banyak memaparkan soal keunggulan dan model pendidikan di Malaysia.
Kebijakan pendidikan di Malaysia kata dia, didukung oleh political will plus komitmen dan konsistensi pemerintah untuk memajukan pendidikan. “Di era Wakil Perdana Menteri Tun Mahathir Mohamad yang merangkap Menteri Pendidikan (Menteri Pembelajaran) kala itu, benar-benar pendidikan yang dikedepankan. Dan itu terus berlanjut hingga era Perdana Menteri
Najib Tun Razak saat ini,” ujarnya. Itu pulalah tambah dia, rata-rata atau secara umum ahli pendidikan atau menteri pendidikan yang diangkat menjadi perdana menteri di Malaysia.
Setelah sekitar satu jam di KBRI, rombongan lalu menuju Genting Highlands yang disebut sebagai kawasan pusat bisnis hiburan dan perjudian di Malaysia. Disebut Genting, karena wilayah ini berada di dataran tinggi (puncak bukit) sekitar ribuan kaki dari atas permukaan air laut. Sesampai di sana, rombongan ditakjubkan oleh pemandangan yang tidak lazim. Genting ibarat surga hiburan. Pantas saja, Malaysia membanggakannya sebagai City of Entertainment (kota hiburan).
Ya, Genting katanya tidak jauh beda dengan pusat perjudian di Makao, Hongkong, atau Las Vegas, Amerika Serikat. Rata-rata yang datang adalah orang berduit. Kebanyakan warga Tionghoa dan Eropa. Sementara rombongan tur jurnalistik pendidikan PARE POS, hanya datang, melihat, dan pulang. (*)
Komentar Anda Untuk Berita/Artikel " Disambut “Pejabat” dan Pesona Genting yang Wah "
|